SIDOARJO — Masa pembinaan di balik tembok pemasyarakatan tidak semata-mata tentang menjalani hukuman. Bagi warga binaan, proses tersebut juga menjadi kesempatan untuk membangun kembali kemampuan dan mempersiapkan diri agar dapat kembali ke tengah masyarakat dengan bekal yang lebih kuat.
Semangat itulah yang terus dikembangkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sidoarjo, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, melalui berbagai program pembinaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.
Salah satunya diwujudkan melalui Pelatihan Pembuatan Paving Blok dan Manajemen Usaha yang digelar di Aula dan Lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas IIA Sidoarjo, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB tersebut melibatkan 20 warga binaan pemasyarakatan (WBP), pegawai Seksi Kegiatan Kerja Lapas Sidoarjo, serta mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.
Pelatihan ini menjadi bentuk kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan dunia akademik dalam memperkuat keterampilan warga binaan. Harapannya, kemampuan yang diperoleh selama mengikuti pembinaan dapat menjadi modal ketika mereka nantinya kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Program pembinaan kemandirian tersebut juga merupakan bagian dari dukungan Lapas Sidoarjo terhadap Program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, terutama dalam mendorong terciptanya sumber daya manusia yang unggul, produktif, dan memiliki daya saing.
Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Program 13 Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, sekaligus tindak lanjut arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan mengenai penguatan pembinaan kemandirian bagi warga binaan di seluruh Indonesia.
Lapas Jadi Ruang Belajar dan Mempersiapkan Masa Depan
Kegiatan diawali dengan sambutan dari perwakilan Kepala Lapas Kelas IIA Sidoarjo. Dalam sambutannya disampaikan bahwa pembinaan kemandirian merupakan salah satu bagian penting dalam sistem pemasyarakatan.
Melalui program yang terarah dan tepat sasaran, warga binaan diharapkan dapat menggali potensi diri sekaligus mempersiapkan kemampuan untuk hidup mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.
“Lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga menjadi tempat belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Pelatihan seperti ini diharapkan mampu membuka wawasan serta memberikan keterampilan yang memiliki nilai ekonomis bagi warga binaan,” ungkapnya.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur yang terlibat dalam pelatihan. Kehadiran mahasiswa bukan sekadar sebagai pendamping, tetapi juga menjadi mitra pembelajaran yang turut berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peserta.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas cakupan pembinaan di Lapas Sidoarjo sekaligus membuka peluang lahirnya berbagai inovasi dalam pengembangan program kemandirian bagi warga binaan.
Memasuki sesi utama, peserta mendapatkan materi mengenai teknik dasar pembuatan paving blok. Materi dimulai dari pengenalan bahan baku, menentukan komposisi campuran, proses pencetakan, hingga tahapan pengeringan dan pengujian kualitas produk.
Namun, pelatihan tidak berhenti pada kemampuan teknis. Para peserta juga memperoleh pengetahuan mengenai manajemen usaha, mulai dari pengelolaan produksi, menghitung biaya, menentukan strategi pemasaran, hingga mengembangkan usaha berbasis keterampilan.
Pembekalan tersebut dinilai penting agar warga binaan tidak hanya mampu menghasilkan sebuah produk, tetapi juga memahami bagaimana mengelola keterampilan tersebut menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan bekal tersebut, kemampuan yang diperoleh selama berada di Lapas diharapkan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha ketika para WBP telah kembali ke lingkungan masing-masing.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para WBP aktif mengikuti diskusi, mengajukan pertanyaan, hingga terlibat langsung dalam praktik pembuatan paving blok bersama petugas Seksi Kegiatan Kerja dan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.
Melalui pembinaan semacam ini, Lapas Sidoarjo berupaya memastikan masa pembinaan menjadi fase yang produktif. Keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal nyata bagi warga binaan untuk menata kembali kehidupan mereka dan membangun masa depan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat.











