Portal Jatim

Jatim Bersinar 2026: Sinergi Desa dan Pesantren Perkuat Rehabilitasi Narkoba Dukung Asta Cita Presiden

Redaksi
×

Jatim Bersinar 2026: Sinergi Desa dan Pesantren Perkuat Rehabilitasi Narkoba Dukung Asta Cita Presiden

Sebarkan artikel ini
Kepala BNN RI bersama Gubernur Jawa Timur dan jajaran terkait saat deklarasi anti-narkoba dalam kegiatan Jatim Bersinar di Balai Pemuda Surabaya, Jumat (14/2/2026).

SURABAYA – Komitmen mendukung akselerasi Asta Cita Presiden RI diwujudkan melalui gerakan “Jatim Bersinar” yang digelar di Balai Budaya, Kompleks Balai Pemuda, Alun-Alun Kota Surabaya, Jumat (14/2/2026).

Agenda ini menjadi titik temu penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga elemen masyarakat dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BNN Kabupaten/Kota se-Jawa Timur, para mitra rehabilitasi, pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Al Kholiqi, serta kepala desa dari program Desa Bersinar. Turut hadir Kepala BNN Provinsi Jawa Timur Brigjen Pol. Budi Mulyanto dan Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto yang memberikan apresiasi atas langkah progresif Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Suyudi menekankan bahwa deklarasi anti-narkoba tidak boleh berhenti sebagai simbolis belaka. Menurutnya, perangkat desa memegang peran strategis sebagai garda terdepan dalam membangun ketahanan sosial masyarakat.

“Jangan hanya berhenti pada label Desa Bersinar. Yang utama adalah aksi nyata: edukasi, literasi, dan pendampingan langsung kepada masyarakat tentang bahaya narkotika,” tegasnya.

Saat ini, dari ratusan desa di Jawa Timur, sebanyak 265 desa telah berstatus Desa Bersinar. Ke depan, jumlah tersebut ditargetkan melampaui 600 desa. Penguatan di level desa dinilai menjadi strategi efektif menghadapi pola peredaran narkoba yang kian kompleks dan adaptif.

Suyudi juga mengingatkan bahwa modus penyalahgunaan kini semakin beragam. Narkotika disamarkan dalam makanan ringan, rokok elektrik, bahkan muncul dalam ratusan varian baru. Peredarannya pun semakin terbuka, termasuk memanfaatkan media sosial dan menyasar acara hajatan.

Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, mendorong kepala desa untuk berani mengambil langkah tegas. Ia menilai keberhasilan gerakan anti-narkoba sangat bergantung pada keberanian desa dalam melapor dan melawan jaringan peredaran.

Baca Juga:
Belajar Rehabilitasi Pecandu Narkoba Berbasis Spiritual, Dua WNA Malaysia Sambangi YPP Al Kholiqi Sidoarjo

Di sisi lain, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan bahwa ancaman narkotika tidak bisa dipandang sebelah mata. Indonesia, termasuk Jawa Timur, berpotensi tidak hanya menjadi wilayah transit, tetapi juga lokasi produksi.

“Jika kita ingin menyongsong Indonesia Emas 2045, maka mitigasi, pencegahan, penindakan, hingga rehabilitasi harus dijalankan secara konsisten dan serius. Generasi muda harus diselamatkan,” ujarnya.

Dukungan konkret juga datang dari kalangan pesantren. Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Al Kholiqi menegaskan kesiapan lembaganya memperluas rehabilitasi berbasis pendekatan spiritual dan sosial.

Menurutnya, rehabilitasi tidak semata memulihkan kondisi fisik, tetapi juga membangun kembali mental dan karakter residen. Pendekatan keagamaan, disiplin, konseling psikososial, hingga pelatihan keterampilan menjadi bagian dari proses pemulihan terpadu.

“Pecandu adalah korban yang harus diselamatkan, bukan dihukum. Dengan pembinaan menyeluruh, kami berupaya mengembalikan mereka menjadi pribadi mandiri dan produktif,” tegasnya.

Kegiatan Jatim Bersinar ditutup dengan pembacaan deklarasi anti-narkoba. Momentum tersebut menjadi simbol komitmen kolektif seluruh elemen Jawa Timur, dari desa hingga pemerintah provinsi, untuk memperkuat barisan melawan peredaran dan penyalahgunaan narkotika demi masa depan generasi bangsa.