MAMUJU – Jalur arteri yang membentang dari depan Kantor Pengadilan Tinggi hingga kawasan Kantor Gubernur Sulawesi Barat selama ini menjadi salah satu lokasi favorit warga Mamuju untuk berolahraga, terutama jogging pada pagi dan sore hari.
Kawasan tersebut sebelumnya dikenal ramai oleh masyarakat yang memanfaatkan ruang terbuka itu untuk menjaga kebugaran sambil menikmati udara segar.
Namun, kondisi itu kini mulai berubah. Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas olahraga di sepanjang jalur tersebut terlihat menurun cukup signifikan.
Penyebab utamanya diduga berasal dari meningkatnya polusi udara akibat intensitas kendaraan berat yang melintas, terutama truk pengangkut material timbunan.
Debu yang beterbangan dari kendaraan tersebut membuat suasana yang sebelumnya nyaman menjadi terganggu. Warga yang datang untuk berolahraga justru harus menghadapi kepulan debu di sepanjang jalan.
Kondisi ini dinilai tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang rutin beraktivitas fisik di ruang terbuka.
“Dulu enak jogging di sini, sekarang sudah tidak nyaman. Debunya sangat terasa, apalagi kalau banyak truk lewat,” ujar salah seorang warga yang kerap berolahraga di kawasan tersebut, Minggu (26/4/2026).
Situasi tersebut memicu keresahan di tengah masyarakat. Selain menurunkan minat warga untuk berolahraga, paparan debu secara terus-menerus juga berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah penanganan, mulai dari penertiban kendaraan pengangkut material hingga upaya pengendalian debu di sepanjang jalur arteri tersebut.
Masyarakat menilai, jika kondisi ini dibiarkan berlarut, fungsi jalan arteri sebagai ruang publik yang sehat dan nyaman akan semakin berkurang.
Dengan adanya penanganan yang tepat, warga berharap kawasan tersebut dapat kembali menjadi tempat olahraga yang aman, bersih, dan nyaman bagi masyarakat Mamuju.











