YOGYAKARTA – Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu Budianto meraih gelar Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dalam sidang terbuka yang digelar di Gedung Moh. Amin FIB UNY, Senin (27/4/2026), Dwi Wahyu memaparkan disertasi mengenai model kurikulum Link and Match yang berorientasi pada pemberdayaan wisata budaya di DIY.
Sidang promosi doktor ini menarik perhatian publik dengan hadirnya Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang bertindak sebagai penguji utama.
Solusi Pengangguran Lulusan SMK
Dalam paparannya, Dwi Wahyu mengungkapkan model kurikulum ini lahir sebagai solusi atas fenomena gap lulusan SMK yang tidak terserap di industri besar seperti perhotelan atau biro perjalanan. Ia menawarkan penguatan peran kelembagaan dan komunitas wisata budaya di tingkat kalurahan sebagai wadah bagi para lulusan.
Menurutnya kurikulum ini bersifat adaptif dan dirancang untuk memaksimalkan potensi lokal. “Tujuannya agar lulusan SMK tidak hanya bergantung pada industri besar, tapi mampu menjadi motor penggerak ekonomi di wilayahnya sendiri melalui pemberdayaan wisata budaya,” ujar Dwi Wahyu.
Lima Tahapan Kurikulum Adaptif
Model kurikulum yang digagas Dwi Wahyu mengedepankan konsep “adaptif” yang mencakup lima rangkaian tahapan strategis:
Perencanaan: Bersifat bottom-up dengan fokus pada penguatan soft skill siswa.
Pengorganisasian: Melibatkan pemangku kepentingan (stakeholder) di tingkat kalurahan/kelurahan.
Implementasi: Menerapkan metode Project Based Learning (PjBL).
Supervisi: Adanya guru pendamping yang terjun langsung ke kalurahan.
Evaluasi: Bersifat komprehensif dan memberikan umpan balik berkelanjutan.
Segmentasi Jurusan dan Sinergi Kebijakan
Dwi Wahyu memetakan empat jurusan SMK yang menjadi pilar utama dalam model ini, yaitu:
Perhotelan: Diarahkan pada pengelolaan homestay.
Tata Boga: Difokuskan pada pengelolaan warung tradisional.
Tata Busana: Diarahkan pada penciptaan pakaian adat untuk berbagai event budaya di DIY.
Perjalanan Wisata: Difokuskan pada penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Lebih lanjut, ia berharap hasil penelitian ini dapat disinergikan dengan regulasi daerah, baik melalui penambahan Peraturan Gubernur (Pergub) pada Perda yang sudah ada, maupun perumusan Perda baru mengenai kolaborasi kurikulum berbasis Keistimewaan DIY.
Momentum Berbasis Kearifan Lokal
Kehadiran Sultan sebagai penguji mempertegas pentingnya kurikulum yang selaras dengan identitas budaya dan potensi lokal. Kalurahan dipandang sebagai entitas penting dalam mendorong pemberdayaan masyarakat, dengan SMK bidang wisata budaya sebagai mitra strategisnya.
Dengan tuntasnya sidang promosi doktor ini, diharapkan model kurikulum Link and Match Wisata Budaya tersebut dapat segera diimplementasikan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat DIY melalui sektor pendidikan dan kebudayaan (bams)











