Portal DIY

Kisah ‘Bledug’ Arinta : Gajah ‘Bayi Pandemi’ GL Zoo yang Rayakan Ultah ke-6

Portal Indonesia
×

Kisah ‘Bledug’ Arinta : Gajah ‘Bayi Pandemi’ GL Zoo yang Rayakan Ultah ke-6

Sebarkan artikel ini
Bledug atau anak gajah bernama Arinta sedang menikmati 'kado' tumpengan buah-buahan segar saat ultahnya ke-6 (Bambang S/Portal Indonesia)

​YOGYAKARTA – Masih ingat dengan bayi gajah yang lahir di tengah sunyinya pandemi Maret 2020 lalu? Arinta, gajah Sumatra yang menjadi primadona Gembira Loka Zoo (GL Zoo), kini telah genap berusia 6 tahun. Perayaan ulang tahunnya pada Rabu (25/3/2026) menjadi momen emosional sekaligus penanda komitmen tinggi GL Zoo terhadap kesejahteraan satwa.

​Lahir dari pasangan gajah jantan bernama Argo  dan betina Sinta. Nama Arinta merupakan gabungan dari kedua induknya. Di usianya yang ke-6, Arinta bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan simbol keberhasilan konservasi di kebun binatang yang kini telah mengantongi sertifikasi kesejahteraan satwa tingkat Asia.

​Misi Jaga Arinta hingga Usia”Kritis”

​Direktur Utama GL Zoo, KMT A. Tirtodiprojo (Joko) mengungkapkan merawat Arinta adalah perjuangan melawan waktu. Tantangan terbesarnya adalah ancaman virus gajah mematikan yang hingga kini belum ada vaksinnya.

​Fokusnya menjaga Arinta tetap sehat hingga melewati masa kritis di usia 11 tahun nanti. Tim medis dan para mahout (perawat gajah) bekerja ekstra keras setiap hari. “Kami mohon doanya agar Arinta bisa tumbuh hingga dewasa,” ujar Joko penuh harap.

​Biaya Pakan yang Fantastis

​Menjaga kesejahteraan 14 ekor gajah (4 jantan dan 10 betina) di GL Zoo dosebutkan bukan perkara murah. Joko memaparkan fakta menarik mengenai biaya operasional satwa raksasa ini.

​Istilah “Gajah makan Gajah” menjadi nyata di sini, karena makanan utama mereka adalah rumput gajah. Seekor gajah dewasa mampu menghabiskan 300 hingga 350 kg pakan per hari, atau sekitar 10% dari berat badannya.

​”Jika diuangkan, biaya pakan untuk seekor gajah saja bisa mencapai Rp11 juta hingga Rp12 juta per bulan,” ungkap Joko.

​Rencana Relokasi

​Sebagai kebun binatang modern, GL Zoo lebih mengutamakan kualitas hidup satwa daripada jumlah koleksi. Karena populasi gajah saat ini sudah mencapai 14 ekor dan mulai melampaui kapasitas lahan, maka pihak manajemen berencana melakukan pengendalian populasi.

Baca Juga:
BMKG Yogyakarta Ingatkan Potensi Hujan Lebat di Masa Pancaroba

​Karenanya dalam waktu dekat, pihak GL Zoo berencana mengirimkan sepasang gajah ke lembaga konservasi lain. “Ini murni demi kesejahteraan mereka, agar gajah-gajah ini mendapatkan ruang gerak (space) yang lebih luas dan layak,” tuturnya.

​Magnet Wisata Lebaran

​Momen ulang tahun Arinta yang masih dalam suasana libur Lebaran turut mendongkrak angka kunjungan. Hingga saat ini, tercatat hampir 30.000 wisatawan telah berkunjung ke GL Zoo, dengan puncak kunjungan terjadi pada Senin lalu yang mencapai lebih dari 11.000 orang dalam sehari.

​Joko menjelaskan konsep GL Zoo kini telah bergeser. Pengunjung tidak hanya datang untuk menonton, tapi mendapatkan experience (pengalaman) baru melihat perilaku alami satwa.

​Ia selanjutnya menunjukkan psngunjung bisa melihat gajah berenang dengan bebas, bermain tanah, atau sekadar menggosokkan badan saat gatal. “Kami ingin masyarakat pulang membawa edukasi tentang bagaimana satwa seharusnya hidup dan diperlakukan,” tutur Joko.

​Saat ini, GL Zoo mengoleksi sekitar 1.800 ekor satwa dari 190 spesies berbeda, semuanya dikelola dengan standar animal welfare internasional (bams)