Portal Jateng

​Menggali Jejak Sejarah di Banyumas, UT Purwokerto dan UIN Jakarta Sambangi Kediaman Ahmad Tohari

Portal Indonesia
×

​Menggali Jejak Sejarah di Banyumas, UT Purwokerto dan UIN Jakarta Sambangi Kediaman Ahmad Tohari

Sebarkan artikel ini
Jajaran UT Purwokerto dan UIN Jakarta mengunjungi budayawan Ahmad Tohari (Dok UT Purwokerto)

BANYUMAS  — Jajaran akademisi Universitas Terbuka (UT) Purwokerto bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar kunjungan budaya ke kediaman sastrawan kawakan Indonesia, Ahmad Tohari, di Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (15/9/2026).

Kunjungan ini dilakukan di sela-sela agenda riset kolaboratif mengenai rekam jejak tokoh historis R.M. Margono. Lebih dari sekadar agenda akademik, pertemuan lintas institusi tersebut menjadi ruang dialog mendalam untuk menggali pemikiran, perjalanan hidup, serta kontribusi kebudayaan sang maestro sastra Banyumas.

Sosok Maestro Sastra yang Mendunia
​Ahmad Tohari dikenal sebagai salah satu figur penting dalam peta kesusastraan Indonesia. Karya monumentalnya, trilogy novel Ronggeng Dukuh Paruk, telah menembus batas bahasa dan lintas benara setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jepang, hingga Jerman.

Popularitas karya ini kian mengakar saat diadaptasi ke layar lebar melalui film Sang Penari, yang sukses mengenalkan realitas sosial dan kearifan lokal Banyumas ke audiens global.

Sebelum mendedikasikan hidupnya pada dunia fiksi, pria kelahiran Banyumas ini memiliki latar belakang panjang di dunia jurnalistik. Ia pernah mencatatkan jejak sebagai staf redaktur di beberapa media arus utama seperti harian Merdeka, majalah Keluarga, serta majalah Amanah.

Pengalaman jurnalistik tersebut membentuk kepekaan sosial dan daya kritis yang memancar dalam setiap karyanya. Hingga kini, ia tetap aktif menuangkan gagasan kebudayaan di media massa dan menjadi pembicara di berbagai forum intelektual.

Soroti Kemunduran Literasi Generasi Muda

Di tengah kehangatan silaturahmi, diskusi tersebut menyentuh isu krusial terkait tren penurunan minat baca di kalangan generasi muda saat ini.

Para akademisi dan Ahmad Tohari sepakat bahwa fenomena ini membutuhkan intervensi nyata, mengingat tradisi literasi merupakan fondasi utama fondasi berpikir kritis suatu bangsa.

Baca Juga:
Empat Tahun Terputus, Jembatan Sungai Lopasir Banyumas Akhirnya Dibangun, Warga Tak Lagi Bergantung pada Jembatan Darurat

Beberapa poin krusial yang digarisbawahi dalam pertemuan tersebut mencakup:
​* Penguatan literasi berkelanjutan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun ruang-ruang komunitas nonformal.
​* Stimulasi tradisi menulis, sebagai metode pengasahan daya pikir reflektif dan penyaluran gagasan secara terstruktur.
​* Aktivasi ruang kesusastraan, seperti forum diskusi buku, festival literasi, dan ruang perjumpaan budaya yang inklusif bagi anak muda.

Sinergi Akademik dan Pelestarian Warisan Intelektual

Kunjungan gabungan ini mempertegas pentingnya sinergi antar-perguruan tinggi dalam merawat warisan sejarah dan budaya.

Penelitian mengenai R.M. Margono yang disandingkan dengan pemikiran Ahmad Tohari diharapkan mampu memperkaya khazanah kebudayaan lokal Banyumas dalam panggung nasional.

Langkah ini sekaligus mempertegas bahwa pemikiran sosok-sosok legendaris Indonesia tidak hanya relevan bagi dunia sastra, melainkan juga menjadi sumber inspirasi lintas disiplin ilmu—mulai dari sejarah, sosiologi, hingga pendidikan—yang patut diwariskan secara berkelanjutan. (trs)