SLEMAN – Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dan tempat usaha di Kabupaten Sleman terus bertambah. Hal itu menjadi perhatian Paroki Santo Petrus Warak, Sleman. Melalui perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 bertema “Tanah yang Dihidupkan, Kehidupan yang Diteruskan”, Gereja Warak mengajak umat membangun kepedulian terhadap ketahanan pangan, lingkungan, dan keberlangsungan ekonomi keluarga.
Menurut Gregorius Decky Krishartedi, tema tersebut berangkat dari keprihatinan atas semakin berkurangnya lahan pertanian di wilayah Warak. Perubahan lingkungan tidak hanya berdampak pada ketersediaan lahan produktif, tetapi juga memengaruhi pola kehidupan dan penghidupan masyarakat.
“HPS bukan hanya berbicara tentang makanan, tetapi juga bagaimana kita menjaga sumber kehidupan dan meneruskannya kepada generasi berikutnya,” menjadi pesan yang mengemuka dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Kegiatan HPN 2026 diawali dengan pelatihan UMKM pada 3 Oktober 2026 di Gedung Serbaguna Santo Petrus Warak. Sebanyak 24 pelaku UMKM mengikuti pelatihan branding, pemasaran digital, riset produk, pengelolaan pelanggan, dan keuangan usaha.
Sehari kemudian, umat mengikuti pelatihan media tanam serta budidaya cabai Jawa dan merica bersama Itok Sampoerno dan Tim Bolayana Farm. Selanjutnya, pada 11 Oktober, dilaksanakan kegiatan pengelolaan sampah agar memiliki nilai ekonomi.
Rangkaian HPS berlanjut pada 17 Oktober melalui Perayaan Ekaristi, pemberkatan alat-alat usaha, dan Bazar UMKM yang dipimpin Romo Benediktus Nugroho Susanto, Pr.
Puncak perayaan berlangsung pada 18 Oktober dengan Ekaristi dipimpin Romo Yohanes Yunuar Ismadi, Pr., dilanjutkan lomba memasak olahan umbi, bazar, dan lomba mewarnai anak-anak.
Selain mengembangkan kepedulian terhadap pangan lokal, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas. Pada 24 Oktober, OMK bersama panitia menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan sehari-hari kepada Yayasan Hamba di Pakem dan Yayasan Bakti Luhur di Berbah.
Melalui HPS 2026, Paroki Santo Petrus Warak berharap kepedulian terhadap tanah, pangan, lingkungan, dan sesama tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan hidup umat.
Sebab, merawat bumi berarti turut menjaga kehidupan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang. (Brd)











