Portal Jateng

Puluhan Anak Diduga Diare, Warga Desa Guntur Purworejo Tolak MBG

Portal Indonesia
×

Puluhan Anak Diduga Diare, Warga Desa Guntur Purworejo Tolak MBG

Sebarkan artikel ini

 

PURWOREJO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Guntur, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menuai penolakan warga setelah sejumlah anak dan warga dilaporkan mengalami diare serta sakit perut usai mengonsumsi makanan yang dibagikan pada Kamis (17/9/2026).

Kekhawatiran terhadap keamanan makanan MBG semakin menguat. Sejumlah orang tua mengaku trauma dan meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut.

Salah satunya disampaikan Sarjito, orang tua murid asal Desa Guntur. Ia mengaku anaknya mengalami diare setelah mencicipi makanan MBG, terutama menu ayam.

Menurut Sarjito, anaknya hanya mengonsumsi sebagian makanan. Namun, pada malam harinya, anak tersebut mengalami gangguan pencernaan.

“Anak saya itu cuma dicicipi sedikit. Dari sedikit yang dicicipi itu menyebabkan diare,” kata Sarjito saat ditemui, Senin (21/9/2026).

Awalnya Dianggap Sakit Perut Biasa
Sarjito mengungkapkan, dirinya sempat mengira keluhan yang dialami anaknya hanya sakit perut biasa. Ia baru mengaitkan kejadian tersebut dengan makanan MBG setelah mendapat informasi bahwa sejumlah anak lain mengalami keluhan serupa.

“Awalnya saya tidak sadar bahwa itu akibat dari MBG. Saya anggap sakit perut biasa. Ternyata pagi harinya baru dapat kabar dari yang lain, ramai sekali kalau diduga MBG itu banyak yang mengalami mencret dan sakit perut,” ujarnya.

Ia mengatakan, terdapat dua anak dalam keluarganya yang menerima makanan MBG. Selain itu, istrinya juga turut mengonsumsi makanan tersebut.

Sarjito menyebut, keluhan yang dialami anggota keluarganya berbeda-beda. Salah satu anak mengalami diare, sedangkan istrinya mengalami mulas.

“Ada yang mencret sampai lama, ada yang beberapa hari, ada yang mencret satu kali kemudian sudah,” katanya.

Warga Nyatakan Penolakan, Pemerintah Diminta Turun Tangan
Sarjito mengaku mewakili keresahan warga Desa Guntur yang khawatir kejadian serupa kembali terjadi. Ia menyatakan penolakan terhadap program MBG hingga terdapat evaluasi dan kepastian mengenai keamanan makanan yang dibagikan.

Baca Juga:
Bahlil: Masih Ada 5.700 Desa dan 4.400 Dusun Belum Berlistrik, Anggaran Lisdes 2026 Naik Jadi Rp10,3 Triliun

“Terus terang saya menolak MBG. Karena bagi saya, MBG adalah program yang tidak bermanfaat,” ungkap Sarjito.

Selain persoalan dugaan gangguan kesehatan, ia juga menyoroti adanya makanan MBG yang tidak dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Sarjito mengaku beberapa kali melihat makanan MBG dibawa pulang dan tidak dimakan.

“Saya menyaksikan sendiri di sini, untuk di sini dan saya yakin itu bukan hanya terjadi di sini, tetapi di banyak tempat lain. Banyak anak-anak yang tidak memakan MBG-nya,” katanya.

Menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi pelaksanaan program, mulai dari proses penyediaan makanan, distribusi, hingga tingkat penerimaan makanan oleh anak-anak.
Ia berharap evaluasi tidak hanya dilakukan berdasarkan laporan administratif, tetapi juga dengan melihat langsung kondisi masyarakat di lapangan.

“Saya harap ke depannya dievaluasi. Jangan cuma kalau sudah dapat laporan kemudian dianggap bagus. Saya sudah melihat dan menyaksikan sendiri di sini,” tegasnya.

Puluhan Anak Dilaporkan Mengalami Keluhan Kesehatan
Sebelumnya diberitakan, puluhan anak di Desa Guntur dan Desa Nglaris, Kecamatan Bener, dilaporkan mengalami diare dan sakit perut setelah diduga mengonsumsi makanan MBG pada Kamis (17/9/2026).
Ketua RW 5 Dusun Kalipancer, Desa Guntur, Tri Indrayatno, mengatakan makanan MBG tersebut didistribusikan kepada siswa MI Guntur, peserta posyandu, ibu hamil, serta anak balita.

Menurut Tri, keluhan kesehatan mulai muncul setelah makanan dikonsumsi. Petugas posyandu kemudian menghubungi pihak dapur untuk melaporkan kondisi tersebut.

“Dari pihak dapur memberikan obat oralit. Sebagian setelah diberi oralit ada yang sembuh, tetapi ada juga yang masih pusing-pusing,” kata Tri. ( Fzi)