Portal Jatim

Susuri Hutan Mangrove dengan Perahu Nelayan, PDI Perjuangan Siapkan Langkah Strategis Konservasi

Redaksi
×

Susuri Hutan Mangrove dengan Perahu Nelayan, PDI Perjuangan Siapkan Langkah Strategis Konservasi

Sebarkan artikel ini
Pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan menyusuri kawasan mangrove Tamba'an menggunakan perahu nelayan untuk melakukan identifikasi lapangan.

PASURUAN – Komitmen terhadap pelestarian lingkungan pesisir terus ditunjukkan DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan. Salah satunya melalui kegiatan identifikasi dan pemetaan kawasan hutan mangrove di Kelurahan Tamba’an, Kecamatan Panggungrejo, Minggu (14/6/2026).

Menggunakan perahu nelayan, jajaran pengurus partai bersama kader di tingkat kecamatan dan kelurahan menyusuri kawasan mangrove untuk melihat langsung kondisi ekosistem pesisir yang selama ini menjadi benteng alami wilayah pantai Kota Pasuruan.

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Mahfud Husairi, ST, didampingi pengurus PAC PDI Perjuangan Panggungrejo serta pengurus ranting Kelurahan Tamba’an.

Pemetaan lapangan dilakukan sebagai tahap awal penyusunan program konservasi yang lebih terukur, berbasis data, dan sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Menurut Mahfud, kawasan mangrove Tamba’an memiliki peran penting meski luasnya relatif kecil. Berdasarkan Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (DIKPLHD) Kota Pasuruan Tahun 2024, kawasan tersebut memiliki luas sekitar 4,02 hektare atau hanya 4,49 persen dari total tutupan mangrove Kota Pasuruan yang mencapai 89,45 hektare.

“Karena itu kami turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi nyata kawasan mangrove. Tidak cukup hanya membaca laporan atau melihat data di atas kertas. Kita harus memahami bagaimana kondisi ekosistem ini, bagaimana ancamannya, dan bagaimana masyarakat pesisir hidup berdampingan dengan lingkungan yang harus dijaga bersama,” ujar Mahfud.

Ia menjelaskan, kondisi mangrove di Kota Pasuruan sempat mengalami penurunan cukup signifikan. Pada 2017, luas kawasan mangrove tercatat mencapai 90,21 hektare. Namun angka tersebut menyusut menjadi 74,92 hektare pada 2020 akibat berbagai tekanan lingkungan.

Berbagai program rehabilitasi yang melibatkan pemerintah, komunitas lingkungan, dan masyarakat akhirnya berhasil meningkatkan kembali luas kawasan mangrove hingga mencapai 89,45 hektare dan bertahan sampai saat ini.

Baca Juga:
Semarak HUT ke-81 RI, PDIP Kota Pasuruan Gelar Lomba dan Perkuat Soliditas Kader

Dalam kurun waktu 2017 hingga 2024, sedikitnya 474 ribu bibit mangrove telah ditanam di berbagai kawasan pesisir Kota Pasuruan. Meski demikian, Mahfud menilai keberhasilan konservasi tidak bisa hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.

“Yang harus menjadi perhatian adalah berapa persen yang tumbuh dan bertahan hidup, bagaimana tingkat kerapatan vegetasinya, serta apakah fungsi ekologisnya benar-benar pulih. Keberhasilan konservasi harus diukur secara ilmiah dan berkelanjutan,” tegasnya.

Menurutnya, ancaman terhadap ekosistem mangrove tidak hanya berasal dari abrasi dan perubahan iklim. Tekanan pembangunan kawasan pesisir, pencemaran lingkungan, serta aktivitas manusia yang tidak terkendali juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.

Karena itu, hasil pemetaan lapangan diharapkan menjadi dasar dalam merancang program konservasi yang lebih terintegrasi sekaligus melibatkan masyarakat sebagai garda terdepan penjaga lingkungan pesisir.

Sementara itu, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Tatit Panji, S.I.Kom., menegaskan bahwa pelestarian mangrove merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, keberadaan mangrove memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan ekonomi warga pesisir, khususnya nelayan dan pelaku usaha yang menggantungkan hidup dari sumber daya laut.

“Mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di tepi pantai. Mangrove adalah benteng kehidupan masyarakat pesisir. Jika ekosistem ini rusak, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari meningkatnya abrasi, berkurangnya habitat ikan, hingga ancaman terhadap mata pencaharian nelayan,” katanya.

Tatit menambahkan, upaya konservasi harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

“Kami ingin membangun kesadaran bahwa menjaga mangrove berarti menjaga masa depan Kota Pasuruan. Karena itu diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan seluruh pihak yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Melalui kegiatan pemetaan tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan berharap dapat berkontribusi dalam mendukung target peningkatan luas kawasan mangrove hingga menembus lebih dari 100 hektare pada tahun 2030.

Baca Juga:
Konsolidasi Internal Diperkuat, DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan Matangkan Pembentukan Pengurus Ranting

Bagi PDI Perjuangan Kota Pasuruan, kawasan mangrove Tamba’an bukan sekadar hamparan vegetasi pesisir. Kawasan itu merupakan aset ekologis penting yang berfungsi melindungi wilayah pantai, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem laut.

Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, langkah pemetaan, rehabilitasi, serta penguatan kesadaran masyarakat dinilai menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga pesisir Kota Pasuruan tetap sehat, produktif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.