YOGYAKARTA – Pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi pejuang Tentara Pelajar (TP), Herman Yoseph Fernandez, memasuki babak baru. Tim Pengusul Kepahlawanan Nasional telah merampungkan rangkaian napak tilas jejak perjuangan sang patriot yang berakhir di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, Yogyakarta, Minggu (8/2/2026).
Kegiatan napak tilas berlangsung selama empat hari (5-8 Februari 2026) ini dilakukan untuk menyempurnakan dokumen primer sebagai syarat mutlak dari Kementerian Sosial (Kemensos). Tim menyisir kembali rute perjuangan mulai dari Palagan Sidobunder di Gombong, Kebumen, hingga Muntilan dan Yogyakarta.
Keponakan kandung Herman Yoseph Fernandez, Grace Siahaan Njo menyatakan optimisme keluarga agar gelar Pahlawan Nasional dapat dianugerahkan bagi Herman Fernandez pada tahun ini.
Napak tilas ini bertujuan menyempurnakan data primer yang diminta Kemensos. “Kami berharap Herman Yoseph Fernandez dapat ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2026 ini,” harap Grace dalam pertemuan di Yogyakarta, Selasa (10/2/2026).
Jejak di Palagan Sidobunder
Napak tilas dimulai pada Kamis (5/2/2026) di Desa Sidobunder, Kebumen, sebagai lokasi pertempuran hebat tahun 1947. Tim pengusul yang beranggotakan tokoh-tokoh seperti Letjen (Purn) Kiki Syahnakri dan Brigjen (Purn) Andreas Mere, disambut pemerintah desa setempat dan komunitas Tunas Patria (Putra-Putri Tentara Pelajar).
Ketua Tunas Patria Kebumen, Bambang Priyambodo menegaskan dukungan penuh warga desa setempat. Nama Herman Fernandez sendiri tercatat pada urutan ke-19 di prasasti monumen setempat sebagai salah satu pejuang yang gugur.
”Dengan terangkatnya beliau menjadi Pahlawan Nasional, sejarah Desa Sidobunder sebagai tempat perjuangan juga akan ikut terangkat,” harap Bambang.
Dari Penjara Belanda hingga SMA Van Lith
Pada hari kedua, tim mengunjungi Benteng Van der Wijck dan bekas Markas CPM di Gombong—tempat di mana Herman Fernandez sempat dipenjara sebelum akhirnya dieksekusi mati oleh tentara Belanda pada 31 Desember 1948.
Perjalanan dilanjutkan ke SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan. Di sekolah bersejarah ini, Herman pernah menimba ilmu bersama tokoh-tokoh besar lainnya seperti Yos Sudarso dan Cornel Simanjuntak. Tim mengumpulkan data dokumentasi masa pendidikan Herman sebagai bagian dari bukti sejarah otentik.
Puncak di TMP Kusumanegara
Rangkaian napak tilas ditutup secara khidmat di Yogyakarta. Tim melakukan ziarah ke makam Herman Yoseph Fernandez di TMP Kusumanegara serta mengunjungi Monumen Jogja Kembali (Monjali) untuk melihat nama sang pejuang yang telah dipahat abadi di tembok memorabilia.
Herman Yoseph Fernandez, putra asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang lahir pada 3 Juni 1925, dikenal sebagai sosok dengan nasionalisme tinggi. Perlawanannya selama 21 hari di Sidobunder dinilai sangat strategis karena berhasil menghambat pergerakan tentara Belanda yang hendak menyerang Yogyakarta dari arah barat.
Dengan rampungnya napak tilas ini, tim pengusul segera melakukan finalisasi berkas untuk diserahkan kepada pemerintah pusat, membawa harapan besar agar jasa pejuang asal NTT ini diakui secara resmi oleh negara (bams)











