YOGYAKARTA – Yogyakarta memiliki destinasi wisata baru yang menawarkan pengalaman berbeda dengan memadukan seni, budaya, edukasi, dan teknologi digital. Destinasi bernama Oase Malioboro – Cultural Creative Park ini dirancang menjadi ruang pertunjukan sekaligus pusat kolaborasi bagi seniman, pelaku budaya, komunitas, dan industri kreatif.
Oase Malioboro yang dikembangkan PT Anindya Mitra Internasional menggelar soft opening melalui kegiatan Partner and Media Gathering, Sabtu (31/10/2026), di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan konsep dan berbagai fasilitas yang disiapkan kepada mitra serta media.
Creative Consultant dan Business Oase Malioboro, Yudha KN, mengatakan destinasi ini dibangun dengan gagasan menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.
Menurutnya, Oase Malioboro tidak sekadar menawarkan tempat bermain, tetapi menjadikan keseluruhan bangunan sebagai ruang pertunjukan dan eksplorasi kreativitas.
“Kami ingin menawarkan sesuatu yang berbeda dari Jogja. Harapannya, orang selalu memiliki alasan untuk kembali ke Jogja, mendapatkan pengalaman baru, dan membawa pulang kenangan tentang seni serta budaya Yogyakarta,” kata Yudha.
Konsep Oase Malioboro berangkat dari nilai-nilai luhur Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2023. Nilai sejarah, filosofi, seni, dan budaya lokal akan dikemas melalui pendekatan visual dan interaktif agar lebih mudah dipahami, khususnya oleh generasi muda.
Pengenalan Sumbu Filosofi tidak dilakukan secara kaku, melainkan melalui pengalaman bermain dan eksplorasi digital. Dengan pendekatan tersebut, pengunjung diharapkan dapat mengenal sejarah serta filosofi Yogyakarta dengan cara yang lebih menyenangkan.
Selain edukasi budaya, Oase Malioboro membuka ruang kolaborasi bagi seniman, perajin, pelaku UMKM, dan kreator lokal. Produk serta karya seni dari berbagai daerah di Yogyakarta, termasuk Kasongan dan Kulon Progo, berpeluang ditampilkan dan dipasarkan di tempat tersebut.
Yudha menjelaskan, Oase Malioboro memiliki sejumlah area dengan fungsi berbeda. Di antaranya ruang pameran interaktif digital yang mengangkat Sumbu Filosofi, Galeri Asta untuk pameran seni rupa, serta Galeri Yujana sebagai ruang pemasaran produk kreatif dan karya seniman.
Berbeda dengan pusat perbelanjaan yang mengandalkan aktivitas belanja, Oase Malioboro menjadikan pertunjukan dan karya kreatif sebagai daya tarik utama. Pengelola ingin membangun ekosistem yang mempertemukan berbagai bidang kreativitas sehingga seniman, kreator visual, dan pelaku pertunjukan dapat saling berkolaborasi.
“Kalau di mal, bisnis utamanya adalah shopping. Sementara kami justru menjual konsep pertunjukan dari para seniman. Kami ingin membangun ekosistem dan kolaborasi, mempertemukan orang-orang yang memiliki keahlian berbeda agar bisa menghasilkan karya bersama,” jelasnya.
Oase juga menyiapkan berbagai program pertunjukan, mulai dari konser, teater, pertunjukan digital, peragaan busana, pameran seni, hingga kegiatan komunitas dan pengalaman edukatif bagi anak-anak.
Program kegiatan akan dikembangkan secara tematik. Setiap tujuh hari disiapkan tema kegiatan berbeda, kemudian program bulanan akan diperbarui berdasarkan hasil riset. Sementara itu, setiap tiga bulan akan dihadirkan tema-tema yang menyesuaikan musim atau momentum tertentu.
Untuk mengatur kenyamanan pengunjung, kegiatan direncanakan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 23.00 WIB dengan beragam pilihan program. Kapasitas pengunjung setiap sesi selama satu jam akan dibatasi seperti sistem pertunjukan di bioskop. Pengunjung dapat memilih pertunjukan sesuai waktu dan minat masing-masing.
Dengan sistem tersebut, pengunjung bisa mengikuti kegiatan edukasi pada siang hari, seperti belajar membatik, kemudian menikmati pertunjukan seni pada malam hari.
Yudha mengatakan, setiap pertunjukan akan menerapkan tiket berbayar. Pengelola juga membuka skema berbagi hasil tiket dengan seniman atau kelompok pertunjukan yang terlibat dalam kolaborasi.
Dari sisi pengunjung, Oase membidik sejumlah segmen pasar. Sekitar 40 persen ditargetkan berasal dari Generasi Z dan Generasi Alpha, 30 persen keluarga muda, 15 persen wisatawan, 10 persen mahasiswa dan pelajar, serta lima persen komunitas lokal.
Teknologi kecerdasan buatan (AI), seni digital, animasi, projection mapping, musik, dan film juga akan menjadi bagian dari pengembangan pengalaman pengunjung.
Selain ruang dalam gedung, Oase Malioboro menyiapkan area luar berupa taman bambu melalui kolaborasi dengan komunitas bambu. Area tersebut akan dikembangkan untuk memperkenalkan bambu sebagai material yang memiliki potensi lebih luas dalam produk dan karya kreatif, tidak hanya sebagai bahan furnitur tradisional.
Salah satu karya yang menjadi bagian dari identitas Oase adalah patung berjudul Rupa Jiwa. Karya tersebut terinspirasi dari konsep Hanoman dan menggambarkan keberagaman bentuk karya seni yang tetap memiliki satu jiwa, yakni semangat Yogyakarta.
Patung tersebut dikonsep oleh Yudha bersama Pujo dan Saryadi, seniman seni patung asal Yogyakarta.
Terkait operasional, Yudha menyampaikan Oase Malioboro menargetkan mulai dibuka untuk umum pada November 2026, dengan perkiraan 5 November. Sementara grand opening direncanakan berlangsung pada Desember 2026.
Melalui konsep tersebut, Oase Malioboro diharapkan menjadi simpul pertemuan antara budaya, pariwisata, komunitas, dan ekonomi kreatif sekaligus menghadirkan perspektif baru dalam menikmati Yogyakarta (bams)











