Portal DIY

Gagas Event Morsa di Yogyakarta, Joko Pranoto Usung Misi Sejahterakan Seniman dan Sastrawan

Portal Indonesia
×

Gagas Event Morsa di Yogyakarta, Joko Pranoto Usung Misi Sejahterakan Seniman dan Sastrawan

Sebarkan artikel ini

 

YOGYAKARTA — Memperkuat ekosistem seni pertunjukan dan sastra di Tanah Air, gelar seni budaya Indonesia Morsa (Musik Tradisional, Orkestra dan Sastra) siap menghentak panggung Purawisata Yogyakarta pada Selasa, 23 Juni 2026 mendatang.

​Event yang baru pertama kali digelar ini tidak hanya menyajikan kolaborasi lintas disiplin seni, tetapi juga menjadi momentum peluncuran buku kumpulan puisi berjudul ‘Yang Kutitipkan kepada Langit dan Negeri Retak’ karya H. Joko Pranoto.

​Penggagas Morsa, H. Joko Pranoto mengungkapkan  gerakan ini lahir dari kegelisahan mendalam terhadap kondisi ekonomi para pelaku seni dan penyair yang dinilai masih minim dukungan dan ruang apresiasi.

​”Melalui kolaborasi lintas komunitas dan disiplin seni, Morsa ingin menghadirkan ruang kreatif yang mampu menghidupkan kembali gairah berkesenian sekaligus meningkatkan kesejahteraan para seniman dan sastrawan,” ujar Joko kepada awak media di Yogyakarta, Jumat (29/5/2026).

​Joko menegaskan, Morsa hadir sebagai pemantik budaya untuk membangun kemandirian para pekerja seni, bahkan siap menyokong seniman yang terkendala dana.

​”Kami ingin sastrawan tidak miskin. Jangan sampai keluarganya membeli susu saja tidak bisa. Morsa ingin hadir untuk menyejahterakan seniman,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa seluruh pembiayaan agenda ini dilakukan secara mandiri tanpa sponsor demi membuktikan independensi komunitas seni.

​Kolaborasi Megah 22 Penampil

​Pertunjukan pada 23 Juni nanti dipastikan berlangsung semarak dengan melibatkan sedikitnya 22 penampil lintas daerah, mulai dari Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, hingga Palembang.

​Panggung Purawisata akan diisi oleh beragam sajian, di antaranya musik tradisional, pembacaan puisi, teater, monolog, selawat reggae, pertunjukan seniman tunanetra, hingga kemegahan orkestra dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ada pula pameran budaya yang ikut menyemarakkan lokasi acara.

​“Ini bukan sekadar peluncuran buku puisi, tetapi ruang silaturahmi dan kolaborasi berbagai kesenian menjadi satu panggung,” tambah Joko.

Baca Juga:
Zakat Profesi Dokter RS PKU Muhammadiyah Perkuat Kesejahteraan 15 Guru di DIY

​Sementara itu, Mahmound selaku tim desain produksi acara, menyoroti tantangan industri seni di Yogyakarta yang selama ini terlalu identik dengan kegiatan gratis. Pola pikir tersebut dinilai mengikis nilai ekonomi dari sebuah karya seni.

​Oleh karena itu, desain produksi Morsa dikemas secara profesional dan adaptif dengan perkembangan zaman serta karakter generasi muda yang akrab dengan media digital.

​Senada, tim marketing Morsa menyatakan bahwa event ini mengusung misi edukasi untuk membangun budaya menonton pertunjukan seni berbayar di Yogyakarta.

​”Pertunjukan ini kami beri brand Morsa agar lebih mudah dikenal publik. Kami ingin masyarakat mulai menghargai karya seni dan para senimannya,” jelasnya.

​Tiket pertunjukan diklasifikasikan dalam tiga kategori, yakni VIP seharga Rp150 ribu, reguler Rp100 ribu, dan mahasiswa sebesar Rp50 ribu. Menariknya, setiap pembelian tiket sudah termasuk paket buku puisi karya Joko Pranoto.

​Guna menjaring antusiasme anak muda, panitia juga menggelar lomba esai khusus mahasiswa, dengan syarat wajib menonton pertunjukan terlebih dahulu sebelum menyusun ulasan.

​Ekspansi ke Berbagai Daerah

​Gerakan Morsa tampaknya akan menjadi pemantik yang berkelanjutan. Joko membeberkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Kebudayaan RI terkait pengembangan industri budaya ini.

​Morsa diproyeksikan tidak hanya berhenti di Kota Pelajar. “Setelah Yogyakarta, kami sudah mendapat tawaran tampil di Solo pada 2027, dan selanjutnya ke berbagai daerah lain di Indonesia,” pungkas Joko (bams)